TEH HIJAU PENCEGAH KANKER | WARTA UNAIR

Teh Hijau Prof Djoko

Penderita kanker saat ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Kandungan karsinogenik seperti zat pewarna dalam makanan menjadi salah satu penyebab penyakit mematikan ini. Tidak hanya makanan yang diberi zat pewarna, polusi udara yang tidak dapat dihindari turut andil menyebarkan zat-zat karsinogenik bagi tubuh. Kenyataannya di kehidupan sehari-hari, orang-orang sulit menghindari bahan-bahan yang dapat mengundang penyakit, terutama kanker. Hal inilah yang mendorong inisiatif Prof. Dr. H. Djoko Agus Purwanto, Apt., MSi, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Airlangga, untuk mengembangkan bahan yang bisa mencegah atau mengobati kanker.
Penelitian dan pengembangan teh sebagai alternatif obat herbal pencegah kanker memang sudah banyak dilakukan. Menurut Djoko, teh dapat digunakan untuk pencegahan maupun pengobatan kanker yang sudah metastasis, yakni yang sudah berpindah (menyebar) dari satu tempat ke tempat lain di dalam tubuh.
Teh hijau dipercayai bisa mengatasi kanker karena mengandung Epigallocatechin Gallate (EGCG). EGCG merupakan suatu antioksidan luar biasa yang memiliki kekuatan 100 kali lebih besar dibandingkan vitamin C, dan 25 kali lebih besar dibandingkan vitamin E. Vitamin C dan vitamin E dikenal sebagai antioksidan pencegah penyakit kanker.
“Jika dibandingkan resveratrol, antioksidan tinggi dari buah anggur, EGCG dari teh hijau ini memiliki tingkatan antioksidan yang lebih tinggi,” papar guru besar Fakultas Farmasi ini.
Minum teh sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat. Kesempatan itu ditangkap oleh Djoko untuk mengembangkan obat antikanker. Dari tangan Djoko, teh tidak hanya menjadi minuman sehari-hari, melainkan juga sebagai obat pencegah dan penyembuh kanker. Selain itu, minum teh bisa menjamin penggunaan yang lebih lama dibandingkan jika obatnya berbentuk kapsul.
“Di daerah Jepang, di Soka, itu daerah yang insiden kankernya paling rendah di dunia. Didapati bahwa orang-orang di situ punya kegemaran minum teh, terutama teh hijau,” tutur Djoko saat ditemui WARTA UNAIR di kantor LPPM, Kamis (30/04).
Tidak hanya sebagai wacana, teh hijau pencegah kanker ini sedang dalam masa produksi oleh PT. Dharma Putra Airlangga dan akan  dipasarkan kepada masyarakat. Produk yang diberi nama MediTea ini diambil dari daun teh hijau yang telah diekstraksi dan diformulasikan sehingga kandungan EGCG-nya lebih tinggi daripada teh biasa. Teh yang sudah diekstraksi kemudian diserbukkan dan dikemas dalam sachet.
“Ini bentuknya serbuk. Tinggal dicampur dengan air panas saja. Terus nanti diminum,” kata Djoko menjelaskan.
Sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat, Djoko menyatakan tidak terlalu mempermasalahkan keuntungan, melainkan mengutamakan sisi kemanusiaan yang sesuai dengan motto Universitas Airlangga “Excelence with Morality” dengan harapan masyarakat yang tidak mampu juga bisa menikmati produk ini. Harapan ke depan, Djoko ingin menggandeng BPJS untuk mensosialisasikan teh ini menjadi program nasional.
“Jadi, kalau program nasional ini berhasil menurunkan insiden kanker, satu persen saja, itu keuntungannya sudah luar biasa,” tutupnya.
Diambil dari - http://www.unair.ac.id/teh-hijau-pencegah-kanker-berita_1529.html 

This entry was posted on Wednesday, October 5, 2016 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply